NASIB HIDUP ALAM DITANAH KELAHIRANKU PART I

Mawasangka, February 2008

Jalan menelusuri beberapa kecamatan, kelurahan desa hingga pegunungan. Yang dijumpai adalah berbagai problematika yang dialami oleh masyarakat. Masalah-masalah tersebut terjadi disetiap sudut pandangan mata kita. Ketika berada di Ibukota kecamatan Mawasangka, Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara. Mata tertuju pada warna-warni sampah yang tersebar disepanjang pesisir pantai belakang pelabuhan Fery. Masuk di Kelurahan Watolo dan Mawasangka, ketika air pasang naik mataku tertuju pada gelombang laut yang telah masuk kedalam kolong rumah masyarakat.

Sampang yang Menumpuk di Kelurahan Mawasangka

Berjalan-berjalan menuju desa Tanailandu, Kanapa-napa, Banga dan Oengkolaki, terlihat aktifitas masyarakat mengeringkan rumput laut hasil panen masyarakat yang dilakukan tepat dibelakang hutan bakau. Sepanjang perjalanan di empat desa tersebut konsentrasiku tertuju pada hutan bakau terbuka akibat pembukaan lahan bakau diubah menjadi lokasi tambak. Tapi sangat disayangkan tambak-tambak yang telah dibuka, ternyata hanya dimanfaatkan dalam beberapa tahun saja. Ketika tambak tersebut tidak produktif lagi, oleh yang punya tambak dibiarkan saja tanpa harus merehabilitasi kembali pohon-pohon bakau yang telah mereka tebang.

Hutan Bakau yang di Konversi menjadi Tambak udang, tetapi hanya sementara dan ditinggalkan oleh yang punya

Pertengahan Februari 2008 kami melakukan beberapa diskusi dengan masyarakat disekitar Kecamatan Mawasangka, guna mengkaji permasalahan-permasalahan lingkungan yang ada disekitar kecamatan dan desa. Menurut masyarakat dibeberapa desa, Kecamatan Mawasangka dulunya merupakan lokasi tempat tinggal masyarakat dari berbagai suku di Sulawesi tenggara, pola kebiasaan masyarakatnya kebanyakan merupakan perantau. Aktifitas masyarakat yang berada di desa mayoritas merupakan nelayan. Nelayan-nelayan yang mencari ikan disekitar desa dari hasil diskusi banyak sekali melakukan aktifitas penangkapan dengan cara yang tidak ramah lingkungan. Alat tangkap yang digunakan yaitu bom ikan, racun alami yang diperoleh dari buah dan akar tumbuh-tumbuhan. Namun dari hasil kajian pola kecenderungan masyarakat dari dulu hingga sekarang aktifitas destructive fishing cenderung semakin menurun. Memang tidak habis secara keseluruhan, untuk sekali dua kali aktifitas menggunakan bom ikan masih dijumpai. Indikator kerusakan sumberdaya alam yang terliahat dari aktifitas masyrakat tersebut terlihat dari data hasil survey kami disepanjang pesisir pantai Mawasangka, yang memperlihatkan persentase penutupan karang yang sangat rendah. Bahkan kategorinya bisa dibilang sangat buruk. Bekas-bekas kehancuran karang akibat penggunaan bom ikan masih terlihat dari kerusakan karang. Berlanjut ke kajian permasalahan sanitasi masyarakat, hasil diskusi dengan masyarakat setempat.

Pada beberapa desa yang berada di Kecamatan Mawasangka, tahun 2007 kemarin wabah penyakit muntaber menimpa beberapa desa, contohnya Desa Gumanano. Masyarakat yang terkena penyakit ini dari hasil diskusi berjumlah kurang lebih 40 orang dan 2 orang meninggal dunia. Kami sempat melakukan kunjungan kelokasi tempat pengambilan air masyarakat, dan yang kami jumpai adalah lokasi sumber air masyarakat setempat digunakan untuk seluruh kebutuhan hidup, seperti Mandi, Cuci dan masak. Dilokasi sumber air tersebut juga bertumpuk banyak sampah plastik yang terakumulasi didasar air, sungguh sangat tidak layak untuk dikonsumsi. Sarana perpipaan memang telah ada, tetapi telah mengalami kerusakan sehingga masyarakat desa secara langsung menimba air dan mandi di tempat tersebut. Demikian halnya dengan Sistem MCK masyarakat, untuk beberapa desa masih banyak kami jumpai yang memanfaatkan pesisir laut guna membuang hajat. Mereka enggan untuk membangun sarana MCK dengan alasan kekurangan biaya, memang suatu alasan klasik tetapi sangat berdampak buruk buat kesehatan masyarakat yang ada disekitarnya.

Masyarakat desa Gumanao yang kesulitan air bersih

Gambaran diatas merupakan sekelumit permasalahan-permasalahan lingkungan yang ada di Kecamatan Mawasangka. Masih banyak masalah yang perlu diperhatikan. Kita bersama-sama berharap segala problematika tersebut dapat diatasi. Baik oleh masyarakat setempat maupun dari pemerintah. Cukup banyak potensi dan kekuatan yang dapat dimanfaatkan guna memperbaiki segala permasalahan yang ada. Dan potensi dan kekuatan tersebut juga terdapat ditengah-tengah mereka. Sebagai contoh di Desa Wasilomata, ikatan adat dan kultur masyarakat yang cukup tinggi, sehingga memungkinkan untuk membangun partisipasi masyarakat dalam menjaga dan melestarikan SDA yang ada, kekuatan ini juga dibarengi dengan aparat pemerintah yang cukup antusias dalam mengembangkan pola partisipasi masyarakat dalam membangun desa dan Kecamatan. Kekuatan ini kami lihat dari proses perjalanan program PNPM-PPK di kecamatan yang memperlihatkan antusiasme masyarakat untuk ikut berpartisipasi. Semoga tetap dipertahankan.

Kepada kawan-kawan yang mungkin memilii pengalaman berjalan-jalan disekitar kecamatan ini dapat memberikan kementar tentang sekelumit permasalahan lingkungan yang ada. Sebagai bahan masukan buat kami dalam melihat dan mengkaji setiap permasalahan. Semoga bermanfaat dan kita dapat menemukan soslusi-solusi terbaik dalam memperbaikinya.

TO BE CONTINUED

Gunawan Sugiyanto

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.