Hutan Lambusango, yang tertdapat di Pulau Buton, memiliki icon yang sangat bombatis dan menarik bagi banyak orang dimana saja berada. Hutan ini menyimpan berbagai keanekaragaman hayati. Biodiversity yang sangat tinggi dan sebagai sumber air bagi banyak desa-desa yang hulunya berada di hutan ini. Paru-Paru Dunia atau biasa disingkat PPD merupakan simbol dari keberadaan Hutan Lambusango.
Hutan yang menyimpan kekayaan sumberdaya alam baik flora dan fauna ini ternyata juga terpendam potensi sumberdaya tambang yang sangat besar jumlahnya. Terlihat dengan demikian banyaknya perusahaan tambang yang beredar disekeliling hutan. Seperti yang tergambar pada Peta sebaran KP yang ada di Hutan Lambusango. Seluruh potensi pertambangan mengelilingi kawasan hutan lindung. Ibaratkan Paru-Paru yang sedang digorogoti oleh penyakit TBC. Jumlah lokasi KP (Kuasa Pertambangan) yang dapat diidentifikasi tersebar disekitar Hutan Lambusango sebanyak 17 KP. Dengan jenis bahan tambang yang dieksplorasi berbeda-beda. Contohnya lokasi tambang nikel yang berada disekitar kecamatan Kapuntori, Tambang Aspal di Kecamatan Lasalimu dan Pasarwajo, Tambang Mangan di Kecamatan Siontapina dan Tambang minyak menyebar di enam Kecamatan di sekitar hutan Lambusango.
Sungguh sebuah ancaman yang sangat dasyat bagi kelangsungan kelestarian hutan. Hutan yang telah berkembang sebagai salah satu sumber penghasilan masyarakat dan menara air bagi banyak desa disekitarnya, sebentar lagi akan berubah menjadi lahan yang akan dibuka untk diambil substratnya. Hanya karena keinginan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pertambangan. Padahal kalau kita meninjau lebih dalam potensi sumberdaya alam yang lain dalam rangka untuk dimanfaatkan oleh masyarakat sangat banyak. Sebagai contoh pertambangan yang ada di Desa Wowoncusu Kecamatan Kapuntori, potensi rumput laut untuk dikembangkan oleh masyarakat demikian besarnya. Dengan nilai jual rumput laut saat sekarang yang telah mencapai Rp 17.000,- ditangan pengumpul membuka peluang untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Demikian pula dengan kegiatan Budidaya Mutiara Mabe, lahan perkebunan yang telah ada sebagai diversifikasi mata pencaharian masyarakat. Ketika usaha pertambangan dibuka, secara singkat memang peluang pekerjaan masyarakat akan terbuka. Tapi pertanyaannya apakah dari hasil tambang tersebut akan seterusnya dapat menghidupi anak cucu kita yang hidup dilokasi tambang???? Jelas jawabannya adalah tidak, karena sumberdaya tambang akan habis ketika seluruh substrat tanah yang mengandung bahan galian tambang habis. Beberapa dampak bagi masyarakat yang hidup disekitarnya akan sangat banyak sekali. Misalnya :
- Hilangnya lahan subur yang menjadi lokasi tambang karena bagian atas tanah yang mengandung unsur hara telah habis karena dikeruk oleh aktifitas pertambangan dan erosi tanah ketika hujan deras,
- Hilangnya mata air yang ada disekitar hutan sebagai akibat konversi ruang terbuka hijau yang diubah menjadi ruang terbuka kering, mengakibatkan masyarakat disekitarnya akan mengalami kesulitan air bersih.
- Meningkatnya sedimentasi perairan yang ada disekitarnya menyebabkan rusaknya ekosistem laut (Terumbu karang) sehingga habitat dan tempat memijahnya dari berbagai jenis ikan akan hilang dan areal penanaman rumput laut masyarakat akan tercemar oleh sedimentasi,
- Meningkatnya tingkat pencemaran udara yang dapat menyebabkan tingginya angka penyakit ISPA (infeksi saluran pernafasan atas)
- Dan masih banyak lagi dampak yang akan dihadapi oleh masyarakat jika kita ulas lebih dalam.
Kurang lebih sekitar 60 desa yang berada disekitar hutan Lambusango masyarakatnya sangat bergantung dengan keberadaan hutan dan laut yang ada disekitarnya. Jika seluruh Kuasa Pertambangan ini berjalan dampaknya akan sangat dirasakan oleh masyarakat bakal terjadi. Terlebih lagi desa-desa lain yang memiliki hulu daerah aliran sungai yang berada di hutan Lambusango. Kecamatan Sampolawa misalnya, sungai sampolawa yang mengalir hingga ke Teluk Sampolawa memiliki hulu air berada di Hutan Lambusango. Saat sekarang saja desa yang berada disekitar sungai sampolawa terancam oleh erosi pinggir sungai, ancaman ini sangat jelas terlihat di Desa Gunung Sejuk. Pinggiran lahan hijau yang dipenuhi oleh pepohonan sudah banyak yang terbawa oleh masa air. Bahkan musim hujan desa ini telah mengalami kebanjiran yang telah masuk disekitar pemukiman, bagaimana jika seluruh hulu sungai yang notebenenya terdapat dihutan Lambusango habis??????
Dilain hal, hutan ini memiliki pepohonan yang tumbuh ditanah dengan kandungan Batu Kapur yang sangat dominan. Jika kita melihat banyaknya pepohonan dalam hutan ini terdapat sebuah adaptasi pepohonan yang tumbuh membutuhkan waktu ratusan tahun. Struktur tanah yang didominasi oleh bebatuan menjadikan substrat bagi banyak pohon yang hidup. Sebagai contoh pada gambar dibawah ini, akar pepohonan yang menembus bongkahan batu yang sangar keras untuk dapat memperoleh air dan mempertahankan hidupnya.
Dari gambar ini kita dapat memperkirakan bahwa, akar yang menembus bebatuan ini memerlukan waktu yang sangat lama. Ketika pohon-pohon sekitarnya habis maka membutuhkan waktu yang sangat lama untuk kembali seperti semula. Sebuah ancaman jangka panjang yang akan dialami masyarakat jika kerusakan hutan tidak segera diatasi
Sungguh sebuah dilema bagi pemerintah dan masyarakat ketika terjadi pengerusakan hutan. Pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan masyarakat menjadi imbas dari kebijakan.
Jika kita menilik dari kekayaan alam yang ada. Sumberdaya hayati sebagai alternatif peningkatan PAD yang ada di Pulau Buton sangat banyak. Kopi, coklat, kemiri, jambu mete, jahe sebagai alternatif masyarakat disekitar hutan, rumput laut, kelapa, perikanan laut dalam (Tuna, Cakalang, dll). Peluang bagi pengembangan usaha selain merusak lingkungan demikian banyak. Dan pertanyaannya yang muncul adalah apakah pemerintah mau untuk membukakan peluang yang besar dalam iklim investasi sumberdaya alam selain tambang??? Ketika pemerintah berpikir demikian dapat kita simpulkan bahwa keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat tidak ada. Padahal jika pemerintah dapat memunculkan iklim investasi yang banyak buat masyarakat dalam mengambangkan potensi yang telah ada, secara tidak langsung akan memunculkan sebuah image yang dalam terhadap keberpihakan pemerintah kepada rakyatnya. Ketika iklim usaha lahir ditengah masyarakat PAD suatu daerah dalam waktu yang singkat juga akan semakin meningkat.
Demikian besarnya kerusakan sumberdaya alam hutan dan perairan yang ada disekitar Pulau Buton, sangat perlu buat pemerintah untuk gimana “MENYATU-HATIKAN PEMBANGUNAN DENGAN LINGKUNGAN”, sebagai upaya tetap melestarikan ekosistem dan miningkatkan kesejahteraan masyarakat.











Coba kalau tambangnya aspal yang dioptimalkan, pasti hasilnya banyak, yang lain menyusul ketika rehabilitasi lahan kritis telah bagus
aduh….!!!
jgn sampe deh “HUTAN LAMBUSANGO”, paru2 dunia yang teranjam TBC coz kalo ud kena TBC or rusak gi mana dong dgn nasib manusia di dunia kalo sampai salah satu penyumbang oksigen terbesar di dunia rusak ?!?!?
mendingan kita semua sama2 aj yaw melestarikan alam coz skrg kan ud terjadi pemanasan global mending kita pelihara aj kelestarian alam kalo nyampe rusak gi mana dong nasip anak,cucu kita ?????
kayakx cuma itu deh komentar aq !!!!!!!
Daaggh…………..!
waduh kacian hutan lambusango terncam TBC,,lebih baik kita rawat tuk melestarikan hutan lambusango secara bersam agr hutan kita kembali seperti semula,,kalo rusak nanti dampaknya akan terancam daerah yang tingal di sekitarnya,,hutan hutan lambusango adlah paru2 dunia yang kaya akan flora dan faunax,,q bukan cuman ngomng tapi q perna teliti sam bule,,,itu aj ya makash,